Disharmonisasi Pengaturan Alat Bukti Digital Dalam UU ITE dan UU Pemilu Pada Penanganan Pelanggaran Pemilu

Authors

  • Putu Ayu Sekar Ratna Sari Universitas Warmadewa
  • Kade Richa Mulyawati Universitas Warmadewa
  • Kadek Nadya Pramita Sari Universitas Warmadewa
  • Anak Agung Gede Ananta Wijaya Sahadewa Universitas Warmadewa

DOI:

https://doi.org/10.58192/sidu.v5i2.4912

Keywords:

Digital Evidence, Election Law, Electoral Violations, Electronic Information and Transactions Law, Legal Disharmony

Abstract

The rapid development of information technology and the intensification of political activity in digital spaces during the 2024 elections have given rise to new forms of electoral violations that require digital evidence-based proof. However, the regulation of digital evidence in the Electronic Information and Transactions Law and the Election Law remains unsynchronized, creating normative disharmony in the handling of electoral violations. This study aims to analyze the forms of disharmony in the regulation of digital evidence and its implications for the process and outcome of electoral violation handling. The research employs a normative legal method using statutory and conceptual approaches, with descriptive-analytical analysis. The findings show that the Electronic Information and Transactions Law explicitly recognizes electronic information and/or documents as valid evidence, whereas the Election Law does not regulate them clearly. This condition leads to differing evidentiary standards, divergent interpretations among law enforcement officers, and legal uncertainty. Consequently, regulatory harmonization is needed so that digital evidence in electoral violation handling can be applied more certainly, effectively, and fairly.

References

Agustina, S. (2015). Implementasi asas lex specialis derogat legi generali dalam sistem peradilan pidana. Masalah-Masalah Hukum, 44(4), 503–510. https://doi.org/10.14710/mmh.44.4.2015.503-510

Evita, N. (2023). Generasi Z dalam pemilu: Pola bermedia Generasi Z dalam pencarian informasi politik. Electoral Governance: Jurnal Tata Kelola Pemilu Indonesia, 5(1), 47–66. https://doi.org/10.46874/tkp.v5i1.1051

Feisal, R. (2024). Bawaslu temukan 355 pelanggaran konten internet selama masa kampanye. ANTARA News. https://www.antaranews.com/berita/3960900/bawaslu-temukan-355-pelanggaran-konten-internet-selama-masa-kampanye

Harahap, M. Y. (2016). Pembahasan permasalahan dan penerapan KUHAP: Pemeriksaan sidang pengadilan, banding, kasasi, dan peninjauan kembali. Sinar Grafika.

Kemala Putri, N., Simeulu, A., Fitri, F. A., Trilia, I., Mulitalia, & Adisma, F. (2024). Disharmonisasi peraturan perundang-undangan di Indonesia antara bentuk penyebab dan solusi. WATHAN: Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora, 1(1), 55–63. https://doi.org/10.71153/wathan.v1i1.17

Lengkong, L. Y. (2020). Penerapan asas mencari kebenaran materiil dalam hukum acara perdata. Universitas Kristen Indonesia (UKI) Press.

Mahmud Marzuki, P. (2005). Penelitian hukum. Prenada Media.

Maulana Akbar, R., & Yusuf, H. (2025). Problematika pembuktian alat bukti digital dalam hukum acara pidana di Indonesia: Analisis teori pembuktian dan praktik peradilan. JICN: Jurnal Intelek dan Cendikiawan Nusantara, 2(5), 9445–9453. https://jicnusantara.com/index.php/jicn/article/download/5394/5495/30135

Mardhiah, A. (2026). Memahami bukti elektronik sebagai alat bukti yang sah. Pengadilan Tinggi Banda Aceh.

Nugraha, M. A., & Widjayanto, I. (2025). Optimalisasi digital forensik: Upaya penguatan alat bukti elektronik dalam tindak pidana siber di Indonesia. Ikatan Penulis Mahasiswa Hukum Indonesia Law Journal, 5(3), 209–230. https://journal.unnes.ac.id/journals/ipmhi/article/download/44723/8949

Prihadiyanti, M., & Yusuf, H. (2026). Analisis yuridis sistem pembuktian dalam hukum acara pidana Indonesia berdasarkan KUHAP dan implementasinya di pengadilan. JIIC: Jurnal Intelek Insan Cendikia, 3(4), 2868–2878. https://jicnusantara.com/index.php/jiic/article/view/7023

Purbacaraka, P., & Soekanto, S. (1983). Perundang-undangan dan yurisprudensi. Citra Aditya Bakti.

Quddus, Z. A., & Sabarina, G. (2023). Dinamika buzzer politik terhadap demokrasi dan hak asasi manusia dalam pemilu. Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan, 1(4), 287–292. https://doi.org/10.31004/jerkin.v1i4.1560

Republik Indonesia. (1981). Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana. Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1981 Nomor 76.

Republik Indonesia. (2008). Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik. Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 58.

Republik Indonesia. (2016). Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik. Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2016 Nomor 251.

Republik Indonesia. (2017). Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilihan Umum. Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2017 Nomor 182.

Republik Indonesia. (2024). Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2024 tentang Perubahan Kedua atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik. Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2024 Nomor 1.

Downloads

Published

2026-06-30

How to Cite

Putu Ayu Sekar Ratna Sari, Kade Richa Mulyawati, Kadek Nadya Pramita Sari, & Anak Agung Gede Ananta Wijaya Sahadewa. (2026). Disharmonisasi Pengaturan Alat Bukti Digital Dalam UU ITE dan UU Pemilu Pada Penanganan Pelanggaran Pemilu. Sinar Dunia: Jurnal Riset Sosial Humaniora Dan Ilmu Pendidikan, 5(2), 471–481. https://doi.org/10.58192/sidu.v5i2.4912