Analisis Yuridis Peranan Dissenting Opinion Hakim Mahkamah Konstitusi dalam Kewenangan Menguji Undang Undang terhadap Undang Undang Dasar 1945
DOI:
https://doi.org/10.58192/sidu.v5i2.4354Keywords:
Constitutional Court, Dissenting Opinion, Judges Decision, Judicial Review, Legal CertaintyAbstract
A judge's decision is a statement made by a judge as a state official with the authority to do so, pronounced at trial with the aim of ending or resolving a case between parties. Constitutional Court decisions recognize only three alternative rulings: granting, rejecting, and declaring inadmissible (Niet Ontvankelijke Verklaard). When the conclusion of a minority judge differs from that of the majority on one of these three options, the differing minority opinion is called a dissenting opinion. This research aims to analyze, first, the role of dissenting opinions of Constitutional Court judges in the authority of judicial review of laws against the 1945 Constitution; and second, the legal impact of dissenting opinions on Constitutional Court decisions in the same authority. This study uses normative legal research, also known as doctrinal legal research, by relying on library materials as its primary basis. Data sources consist of secondary data including primary, secondary, and tertiary legal materials. Data analysis was conducted qualitatively and descriptively. The results show that, first, dissenting opinions represent the essence of judges' personal freedom in finding material truth; although dissenting opinions are included in the verdict text, what is definitively applied remains the majority decision. Second, although dissenting opinions are recognized under Law Number 48 of 2009 on Judicial Power, they factually have no binding legal effect on the court decision concerned. Therefore, legal reform is needed to clarify the juridical function and status of dissenting opinions, including strengthening their role as a supporting source of law in the development of jurisprudence.
References
Halim, R. (1985). Pengantar ilmu hukum dalam tanya jawab. Ghalia Indonesia.
Hamidi, J. (2005). Hermeneutika hukum. UII Press.
Haryono, D. (2021). Metode tafsir putusan Mahkamah Konstitusi dalam pengujian konstitusional Undang-Undang Cipta Kerja. Jurnal Konstitusi, 18(4), 776–799.
Khodriyah, N. (2024). Analisis dissenting opinion putusan MKMK terkait pemberhentian jabatan Ketua MK perspektif teori keadilan dan siyasah dusturiyah. Jurnal Hukum dan Konstitusi, 11(2), 56–72.
Manan, B. (2006). Dissenting opinion dalam sistem peradilan Indonesia. Varia Peradilan, 253.
Marzuki, P. M. (2005). Penelitian hukum. Kencana Prenada Media Group.
Mertokusumo, S. (1984). Hukum acara perdata. Liberty.
Moerad, P. (2005). Pembentukan hukum melalui putusan pengadilan dalam perkara pidana. Alumni.
Mulyadi, L. (2009). Putusan hakim dalam hukum acara perdata Indonesia. Citra Aditya Bakti.
Ningrat, A. A. N. B. P., Rideng, I. W., & Wijaya, I. K. K. A. (2025). Kepastian hukum berlakunya Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 86 Tahun 2017 dalam penyusunan rencana kerja pemerintah daerah. Pemuliaan Keadilan, 2(2), 10–22. https://doi.org/10.62383/pk.v2i2.506
Nuryadi, D. (2016). Teori hukum progresif dan penerapannya di Indonesia. Jurnal Ilmiah Hukum De’jure, 1(2), 395–417.
Pelafu, F. L. (2017). Pelaksanaan putusan pengadilan dalam perkara pidana berdasarkan Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana. Jurnal Lex Crimen, 6(3), 78–87.
Rahardjo, S. (2009). Penegakan hukum: Suatu tinjauan sosiologis. Genta Publishing.
Republik Indonesia. (1945). Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
Republik Indonesia. (1981). Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana.
Republik Indonesia. (2003). Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi.
Republik Indonesia. (2004). Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman.
Republik Indonesia. (2009). Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman.
Republik Indonesia. (2011a). Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2011 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi.
Republik Indonesia. (2011b). Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan.
Rusdi, M. (2024). Implikasi dissenting opinion hakim Mahkamah Konstitusi terhadap kesadaran hukum masyarakat. Jurnal Ilmu Hukum dan Peradilan, 9(1), 88–104.
Saragih, G. M., Indra, M., & Artina, D. (2023). Putusan Mahkamah Konstitusi dalam praktik pengujian undang-undang terhadap UUD 1945. Raja Grafindo Persada.
Siregar, M. (2024). Teori hukum progresif dalam konsep negara hukum Indonesia. Jurnal Muhammadiyah Law Review, 8(2), 145–162.
Soekanto, S., & Mamudji, S. (2015). Penelitian hukum normatif: Suatu tinjauan singkat. Rajawali Pers.
Subagyono, B. S. H., Wahyudi, J., & Akbar, R. (2014). Kajian penerapan asas ultra petita pada petitum ex aequo et bono. Jurnal Yuridika, 29(1), 67–82.
Tsaqifah, H. A., Batullatifah, S. A., Mukhbita, C. A., & Putri, T. A. K. (2025). Pemikiran Ahmad Muhammad Mustain Nasoha tentang hak asasi manusia (HAM), kewarganegaraan dan negara hukum demokratis: Suatu analisis teoritis. Aktivisme: Jurnal Ilmu Pendidikan, Politik dan Sosial Indonesia, 2(4), 101–123. https://doi.org/10.62383/aktivisme.v2i4.1347
Zahira, V. A. (2025). Analisis kritis terhadap Putusan Mahkamah Konstitusi No. 46/PUU-VIII/2010: Hubungan nasab dan keperdataan anak di luar nikah dalam perspektif maṣlaḥah. Demokrasi: Jurnal Riset Ilmu Hukum, Sosial dan Politik, 2(2), 118–129. https://doi.org/10.62383/demokrasi.v2i2.878
Downloads
Published
How to Cite
Issue
Section
License
Copyright (c) 2026 Sinar Dunia: Jurnal Riset Sosial Humaniora dan Ilmu Pendidikan

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.





